Penemuan manuskrip perihal kulit kera membuat ambisi Piduka layaknya gulma rumput setan yang tanpa disadari kian hari kian menggerogotinya. Dengan menjadikan anaknya jalan pintas mencapai mimpi panjangnya;Piduka melakukan apapun untuk anaknya, termasuk membuat ramuan asahan kulit kera. Sekelebat bayang-bayang setia hadir menyambangi kepalanya, mengatakan padanya bahwa asahan kulit kera yang ia siapkan akan mengantarkan anaknya menjadi laris, menjadi idola banyak orang dan menjadi alasan jogednya paling ditunggu di desa-desa.

Tapi,  pariwisata begitu merayu gadis bakal penari joged itu untuk pergi ke daerah selatan. Ada yang bercerita di dalam kepalanya; dia tidak memiliki cukup uang tapi dia ingin membantu orang tuanya tapi ia tidak ingin dibicarakan teman-temannya tapi ia suka menari tapi dia ingin bekerja di selatan tapi orang tuanya tidak mengijinkan.

Dalam kepalanya muncul keinginan jika sebaiknya ia lari dari rumahnya atau menggantung dirinya atau menggorok lehernya atau mengiris nadinya atau membenturkan kepalanya atau menyetrum dirinya atau meracun dirinya atau membakar dirinya?

“Iya benar, pilihan yang terakhir saja, membakar diri,” bisiknya.

*

Obat kelamin laki-laki, bahan: hidung babi hutan, potong dan dipanggang (namun) jangan sampai masak (setengah matang) dimakan dengan kencur, bawang putih, merica, garam yang disangrai. Diminum bersama berem segar dan sudah keluar buihnya. Mantranya diucapkan tiga kali.