Pukul tujuh pagi di Bandara Ujung Pandang. Pesawat delay, agak aneh kalau laki-laki seimut saya harus marah-marah sepagi ini. Saya memesan kopi, mengambil buku kecil dan sedikit menuliskan beberapa ingatan yang tercecer, sebagian di Benteng Rotterdam, sebagian di sepanjang Jalan Pattimura, sebagian lagi di lobi hotel.
Menjadi kurator di festival yang amat dicintai warganya adalah satu hal yang menyenangkan dan saya syukuri berhasil saya selesaikan di tahun ini. 9 bulan waktu persiapan dan pengerjaan MIWF, tentu rasa mengandung saya tak lebih berat dari apa yang teman-teman di Makassar kerjakan. MIWF 2026 ini tak akan ramai dan tak akan berjalan sesuai harapan jika bukan teman-teman di Makassar yang menjalankan. Seminggu terakhir di Makassar memberi saya banyak kenangan dan cerita-cerita menyenangkan. Ini kali ketiga saya ke Makassar dan seolah satu kalimat tiba-tiba melompat dari mulut saya, “Masih mau ke sini lagi kapan hari”.
***
Satu malam, Agustus 2025, Boy Candra di Bali dan saya mengajaknya makan bersama setelah lama nongkrong di toko buku. Selepas makan, hp saya bergetar, satu pesan dari Aan Mansyur, “Sekarang lagi sibuk gak, Jul? Bisa saya ganggu gak?” Kayaknya penting, pikir saya.
“Bisa, Kak, tapi ini masih di tempat makan, situasinya agak rame, gapapa?” Tak lama berselang, ia menelepon, menjelaskan soal kurator MIWF 2026. Tentu, bekerja untuk hal-hal begini mesti dipastikan dulu kerja dengan siapa, karena akan berpengaruh pada fisik juga mental saya.
“Kerja bareng siapa, Kak?” tanya saya.
“Zizi dan Titah”, setelah mendengar jawaban itu, saya tak perlu lagi meminta waktu berpikir sehari-dua hari sebagaimana saya lakukan sebelum memutuskan sesuatu. Zizi (fotografer) dan Titah (jurnalis), dua perempuan yang saya sudah tahu hal-hal keren apa yang mereka kerjakan, juga pernah ketemu beberapa kali di Makassar, Jogja, dan Bali, dan dari pertemuan-pertemuan itu saya menyimpulkan—agaknya kami nyambung. Minimal nyambung dulu.
Bekerja bersama mereka rasanya menyenangkan. Bekerja dengan banyak orang, membuat saya mesti senantiasa mengeja jarak. Ini proses belajar yang sederhana tapi butuh kerendahan hati dan tampaknya soal begini, saya pemula. Saya mesti tahu kapan harus mendekat dan menjauh, membagi tugas ini-itu. Saya pribadi kadang takut sekali terlalu mendominasi sesuatu. Kalau kita terlalu dekat, ruangnya bisa terasa sesak. Tapi kalau terlalu jauh, kita malah jadi abai terhadap beban yang diam-diam sedang dipikul teman kita sendiri. Mengeja jarak itu agaknya susah-susah-gampang, karena usaha menjadi tempat di mana setiap orang merasa didengarkan dan dihargai apa adanya itu kayaknya mata pelajaran yang sendiri terus dipelajari.
Penerimaan saya terhadap MIWF 2026 dan kota Makassar pada umumnya, membawa ingatan saya kembali pada satu keunikan yang selalu berhasil memantik rasa penasaran saya sebagai orang yang tidak tinggal di Makassar dan tidak lahir di Makassar. Entahlah, ini anggapan saya saja atau mungkin teman-teman lain mengalami. Rasa nyambung yang saya rasakan dengan orang-orang di lingkaran MIWF seolah mengakar pada bagaimana masyarakat setempat merajut komunikasi mereka. Dalam bahasa Makassar, ada sebuah gejala linguistik yang sangat menarik perhatian saya.
Kata ganti yang secara struktural bersifat jamak inklusif, melibatkan pembicara dan lawan bicara, sering kali bergeser maknanya menjadi tunggal demi sopan santun (honorifik). Kata ‘kita’ (atau ki-): Secara asal-usul bahasa, ‘kita’ artinya “kita” (jamak). Namun, dalam interaksi sehari-hari, termasuk saat orang Makassar berbicara dalam bahasa Indonesia dialek Makassar, kata “Kita” dipakai untuk menyapa satu orang (tunggal) yang dihormati atau lebih tua. Contoh: “Di mana ki’ tinggal?” artinya “Di mana Anda tinggal?” (bukan “Di mana kita semua tinggal?”). Karena kata jamak ini diadopsi menjadi kata ganti tunggal yang sangat dominan, orang luar (ya saya) sering merasa rancu dan mengira bahasa Makassar tidak membedakan tunggal dan jamak.
Ketika menggunakan kata ganti seperti “kamu” atau “Anda”, kita secara tidak sadar sedang membangun sekat yang tegas antara “saya” dan “kamu”. Namun, penggunaan kata “kita“ dalam bahasa Makassar justru mendobrak batasan tersebut. Dengan memilih kata yang sejatinya bermakna jamak inklusif ini, pembicara secara halus meleburkan ego dan menyatukan ruang personalnya dengan lawan bicara. Bisa jadi fenomena ini bukan cuma urusan tata bahasa (ya emang bukan cuman!). MIWF dan orang-orang yang saya temui terasa hangat mungkin saja karena mereka tidak hanya menempatkan diri dalam posisi yang setara, tetapi juga mengekspresikan rasa hormat yang mendalam dengan cara merangkul lawan bicara ke dalam lingkaran yang sama. Hal itu yang menjadikan saya juga merasa senang dengan pilihan tema MIWF 2026, Re-co-ordinate. Secara model kerja pun, saya melihat tema ini dicoba diimplementasikan dalam praktik berfestival.
Tema tahun ini sebenarnya ingin mengingatkan kita bahwa berbagai masalah besar yang terjadi saat ini, seperti kerusakan alam dan konflik, bukan semata-mata salah urus kebijakan, melainkan karena kita sudah kehilangan rasa saling terhubung. Kita sering lupa bahwa tindakan kita pasti berdampak pada orang lain, komunitas, dan lingkungan sekitar. Meletakkan satu kesadaran untuk berhenti sejenak, mengevaluasi cara hidup kita selama ini, dan melihat kembali apakah cara pandang kita sudah adil bagi semua pihak. Ajakan besar ini tentu membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan lanjutan tentang bagaimana menerapkannya secara nyata. Secara praktis, bagaimana cara kita memetakan ulang koordinat dalam kehidupan sehari-hari yang sudah terlanjur serba cepat dan konsumtif? Selain tantangan dalam gaya hidup pribadi, kita juga diperhadapkan pada realitas sosial yang tidak mudah, yaitu tentang bagaimana cara membangun solidaritas dan ruang dialog yang setara di tengah masyarakat yang saat ini sangat terkotak-kotak oleh perbedaan politik dan budaya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akhirnya menjadi tantangan nyata bagi kita untuk menerjemahkan gagasan re-co-ordinate dari konsep menjadi satu tindakan bersama.
Melihat keterhubungan ini, saya kerap merasa ada sesuatu yang bekerja pada kata ini, bahwa kita tidak bisa berjalan sendirian, dan bahwa koordinasi terbaik tidak pernah lahir dari instruksi yang sifatnya satu arah, melainkan dari rasa saling mengerti, kelonggaran untuk saling memaafkan, dan kesediaan untuk merajut kembali benang-benang silaturahmi ini.
Kesadaran inilah yang membawa kita pada realitas yang lebih dalam: bahwa di dunia ini tidak ada satu pun koordinat tunggal. Semuanya saling terhubung dan saling memengaruhi. Kita mungkin sering melihat batasan yang kaku melalui struktur organisasi atau sekat-sekat formal di atas kertas. Namun, dalam praktiknya, hubungan antarmanusia dan lingkungan sebenarnya bersifat begitu cair. Garis-garis formal itu sering kali lebur ketika kita berhadapan langsung dengan realitas di lapangan.
Menghadapi ruang yang cair ini tentu bukan perkara mudah karena di dalamnya kita harus menampung begitu banyak harapan, perbedaan pandangan, hingga model kerja yang tak jarang bertabrakan satu dengan yang lain. Satu festival yang bisa kita maknai sebagai satu ruang kolektif ini bisa saja terasa melelahkan karena tidak ada satu jawaban mutlak yang bisa memuaskan semua orang. Itu pun kalau kita percaya adanya satu jawaban. Namun, di sinilah letak ujian kemanusiaan kita, saya belum terpikir kata apa yang cocok mengganti itu, mungkin di sinilah letak tantangannya. Alih-alih memaksakan satu standar atau menyamakan semua isi kepala, re-co-ordinate justru mengajak kita untuk belajar melapangkan dada dan lebih melihat simpul kemungkinan lain, pendar bintang dengan ragam jarak, diberi ruang untuk ikut bertumpu, terhubung, dan bergerak bersama.
Malam hari setelah cukup beristirahat, saya menyalin tulisan di buku dan sadar mungkin kita semua seperti rasi bintang di langit malam—titik-titik cahayanya tampak berdiri sendiri dan berjauhan, namun diam-diam saling menenun diri menjadi satu keutuhan. Malam itu saya tersadar, kita semua seolah tidak berbeda dengan rasi bintang. Terpencar di tempat yang jauh, namun selalu ada cara yang membuat kita saling menemukan dan membentuk satu keindahan bersama. Tak ada koordinat yang melangkah sendirian, semuanya saling terhubung, begitu pula kita.






